Kamis, 04 Desember 2008

Nostalgia

Pas wayahe bulan purnama, Muntiyadi ngejak Romlah ngelencer nostalgia numpak bronpit.

Mari ngono, arek loro iku tekan mburine pabrik paku.
"Dik, yok opo lek awake dhewe mbaleni lakon limang tau kepungkur pas pacaran biyen ?" jare Muntiyadi.
"Iyo cak, setuju." jare Romlah.

Mari ngono, Romlah dilungguhno ndhik pager wesi mburine pabrik paku iku.
Terus ambek Muntiyadi, Romlah dijak indehoi koyok jamane pas pacaran biyen.
Moro-moro, Romlah lunjak-lunjak ambek awake horeg kabeh.
Ndelok bojone giras ngono, Muntiyadi tambah semuangat.
Wis oleh rong ronde, akhire arek loro iku nggeblak ceblok ndhik suket.

"Waduh dik, awakmu kok cik girase " jare Muntiyadi.
"Iyo cak, limang taun kepungkur, pager wesine gak onok setrume. ."

Tidak Mendengar Suara Apapun

Ada seorang pria di rumah sakit jiwa. Sepanjang hari, dia menempelkan telinganya ke tembok, seperti mendengarkan sesuatu. Seorang dokter penasaran melihatnya seperti itu tiap hari.

Dokter itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu apa yang dia dengar dari balik tembok itu. Dia menempelkan telinganya ke tembok, tetapi tidak mendengar apa-apa.

"Aku tidak mendengar suara apa-apa kok," katanya kepada si pasien.

Dengan wajah serius si pasien menjawab, "Iya, Dok, aku tahu kok. Dan memang sudah berbulan-bulan tidak ada suara apapun dari dalam sana."

Berawal dari chating

Seorang anak bertanya kepada bapaknya,

“Papa.. cerita dong, tentang kelahiranku..”

“Hmm, anakku.. memang, sudah saatnya kamu tahu.. lima tahun lalu, papa dan mamamu pertama kali bertemu di sebuah CHAT ROOM YAHOO. Via E-MAIL, kami janjian kopdar (kopi darat) di sebuah CYBER-CAFE. Kami memesan tempat khusus. Mama setuju untuk men-DOWNLOAD dari HARDISK papa. Segera papa bersiap meng-UPLOAD.

Ternyata tak satupun dari kami memakai FIREWALL, dan sudah telat untuk memencet tombol DELETE. Akhirnya sembilan bulan kemudian muncul POP-UP kecil berisi pesan: YOU'VE GOT MALE...”

Selasa, 02 Desember 2008

Madrid Resmi Boyong Huntelaar

Real Madrid akan segera mendapatkan jawaban atas krisis striker yang mereka derita lantaran cedera panjang Ruud van Nistelrooy. Setelah beberapa nama memberi sinyal negatif, kini seorang pemain dikabarkan resmi akan hengkang ke Santiago Bernabeu pada Januari mendatang. Ia adalah kompatriot Nistelrooy, Klaas-Jan Huntelaar.

Hal ini tentu amat menarik, mengingat belum lama, kubu Ajax menyatakan sanggahannya atas rumor Huntelaar. Ajax, diwakili Presiden Uri Coronel dan pelatih Marco van Basten, dengan blak-blakan membantah rumor tersebut. Dikatakan peluang Huntelaar untuk hengkang memang tidak tertutup, namun hal tersebut paling cepat hanya dapat dilakukan setelah musim ini usai (Baca: Ajax Tepis Rumor Huntelaar)

Namun kenyataan yang terjadi berbeda. Los Merengues tidak perlu menunggu sampai musim ini berakhir untuk mendapatkan Huntelaar. Bursa transfer musim dingin digunakan Madrid untuk mewujudkan keinginannya itu.

Seperti dilansir situs resmi Madrid, kubu Madrid dan Ajax sudah mencapai kesepakatan untuk mewujudkan transfer tersebut. Madrid dikabarkan harus menggelontorkan dana sebesar 20 juta euro untuk mendapatkan sang pemain. Jumlah ini masih mungkin bertambah menjadi 27 juta euro, sebab masih terdapat klausa tambahan yang didasarkan atas penampilan dan prestasi ‘The Hunter’ selama berbaju Madrid.

“Huntelaar adalah pemain baru Real Madrid. Real Madrid dan Ajax Amsterdam telah mencapai kesepakatan mengenai penyrang tersebut. Seperti biasa, kesepakatan ini bergantung pula pada hasil tes medis dan penandatanganan kontraknya dengan Real Madrid. Klaas Jan huntelar akan diikat Madrid sampai 30 Juni 2013,” demikian pernyataan yang dimuat di situs resmi Madrid.

Bergabungnya mantan pemain Heerenven ini tentu membawa dampak positif bagi Madrid. Kehebatannya dalam menjebol gawang lawan telah cukup dikenal di seantero Eropa. Apalagi, karena Ajax hanya berkompetisi di Piala UEFA pada musim ini, ia dapat memperkuat Madrid berlaga di turnamen kelas satu, Liga Champions.
Tahun 2008 akan dikenang Timnas Spanyol sebagai tahun yang manis. Tim Matador akhirnya berhasil menjadi kampiun salah satu ajang kompetisi besar, Euro. Apalagi lawan yang dihadapi di partai puncak bukanlah tim kacangan, melainkan tim ‘spesialis turnamen’, Jerman.

Namun ternyata memang kali ini Tim Matador yang berhasil merengkuh gelar prestisius tersebut. Mereka pun sukses meraih gelar juara Euro setelah memukul Jerman di partai puncak, dengan skor tipis 1-0 (1-0). Gol kemenangan Spanyol tersebut, dibukukan oleh striker muda yang kini bermain untuk Liverpool, Fernando Torres.

Pada pertandingan tersebut, Torres memikul tanggung jawab yang cukup besar. Pelatih Spanyol, Luis Aragones memasangnya sebagai striker tunggal lantaran David Villa masih dibekap cedera. Namun ia sanggup membayar lunas kepercayaan tersebut. Tak heran jika gelar man of the match pun terarah padanya.

Gol yang dibukukannya di menit ke-33 tersebut merupakan buah kecerdikannya mencari posisi, serta kecepatannya yang bagai seorang sprinter. Menerima sodoran Xavi Hernandez, Torres mengejar bola dan kemudian menekuk Phillip Lahm sebelum kemudian menutupnya dengan gol indah ke gawang Jerman yang dikawal Jens Lehmann.

Menjadi bagian skuad Luis Aragones, orang-orang mengenal Torres sebagai striker yang baru saja menjalani musim perdana mengesankan di Liverpool. Bersama The Reds, Torres yang dijuluki El Nino mencatatkan 33 gol dalam musim perdananya tersebut. Bebannya makin berat, sebab Aragones tidak mengikut sertakan “anak emas” Spanyol, Raul Gonzalez.

Tak disangka, duetnya bersama David Villa sanggup membuat publik Spanyol melupakan Raul. Kekompakan mereka berdua telah membawa Spanyol melangkah mulus menuju babak final. Hanya di babak perempat final kontra Italia, Tim Matador meraih keemnangan lewat adu penalti, sedangkan lima pertandingan lainnya dituntaskan dalam waktu normal, 2 x 45 menit. Walau demikian, Torres dan Villa sempat mandul kala menghadapi Rusia di semifinal.

Dan partai pamungkas pun menjadi panggung yang tepat bagi Torres. Meski tidak didampingi Villa, ia sanggup membukukan gol penyelamat bagi Spanyol. Gol yang memastikan La Furia Roja meraih gelar internasional kedua mereka, sekaligus menghapus mimpi buruk Spanyol yang kerap gagal tampil maksimal di turnamen besar.

Nama Lengkap: Fernando Jose Torres Sanz
Tempat/Tgl Lahir: Madrid, Spanyol/20 Maret 1984
Kebangsaan: Spanyol
Klub: Liverpool
Posisi: Penyerang

Ballack, Si Penembak Jitu

Suporter Timnas Jerman sempat ketar-ketir melihat performa tim kesayangannya tersebut selama mengikuti Euro 2008. Bermain menakjubkan pada pertandingan pertama, Jerman takluk 1-2 di tangan Kroasia pada pertandingan kedua. Tak ayal, nasib Jerman pun harus ditentukan pada partai terakhir menghadapi Austria.

Meski hanya membutuhkan hasil imbang dalam pertandingan tersebut, jelas Jerman punya misi meraih kemenangan demi mempertahankan nama besarnya. Sempat kesulitan menembus pertahanan Austria di babak pertama, akhirnya Jerman mampu memecah kebuntuan di babak kedua melalui gol tendangan bebas Michael Ballack. Kemenangan yang dapat menjadi obat atas kekalahan mereka pada pertandingan sebelumnya.

Untuk kesekian kalinya, Ballack membuktikan kalau dirinya sangat dibutuhkan Tim Panser. Ia bagaikan nyawa di lini tengah Jerman dengan kemampuannya menahan bola serta umpan-umpan terukurnya. Tak heran jika pelatih Jerman pada Piala Dunia 2006, Juergen Klinsmann, pun mempercayakan jabatan kapten kepadanya. Jabatan yang masih diembannya sampai sekarang.

Ballack pertama kali dipanggil ke timnas pada 1997, saat Berti Vogts masih menjabat sebagai pelatih. Meski demikian, ia masih harus menunggu selama dua tahun untuk dapat merumput dengan memakai seragam kebesaran tersebut. Kesabarannya membuahkan hasil, ketika Jerman menghadapi Skotlandia pada 1999, ia dimainkan oleh pelatih Jerman kala itu, Erich Ribbeck, sebagai pengganti Dietmar Hamman.

Buruknya penampilan Jerman di Euro 2000 berimbas pada Ballack. Total, ia hanya bermain selama 63 pada perhelatan akbar itu. Dua tahun kemudian, permainan Ballack menjadi salah satu kuci sukses Jerman mencapai babak final. Di babak penyisihan grup, ketajamannya terlihat dengan gol yang dicetaknya ke gawang Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sayang, ia tidak dapat bermain di partai puncak karena terkena akumulasi kartu kuning. Hasilnya, Jerman takluk 0-2 di tangan Brasil.

Ballack gagal berbuat banyak di Euro 2004. Hasilnya, Jerman harus pulang lebih dahulu lantaran tidak berhasil menembus babak penyisihan grup. Namun itu tidak terulang pada Piala Dunia 2006. Meski sempat absen pada pertandingan pertama, Ballack mampu membawa Jerman menempati peringkat ketiga.

Sebagai pemimpin, pemecah kebuntuan, serta inspirator tim, Ballack adalah pesepakbola terbaik yang dimiliki Jerman saat ini. Kini, publik sepakbola Jerman tentu menaruh harapan pada Ballack, agar ia mampu mengulangi apa yang dilakukan Juergen Klinsmann 12 tahun silam, mengangkat tropi Piala Eropa.

Iniesta, Otak Apiknya Spanyol

Luar biasa Spanyol! Itulah kalimat yang bisa menggambarkan permainan Tim Matador ketika menggembosi Tim Beruang Merah, Rusia, pada laga semifinal Euro 2008 yang dimainkan di Ernts Happel Stadion, Wina, Austria, Kamis (26/06) atau Jumat dinihari-WIB.

Tidak tanggung-tanggung, Rusia yang sedang menanjak grafiknya dan diselimuti aroma dendam dibantai tiga gol tanpa balas. Selisih gol yang sama seperti ketika kedua kesebelasan memulai aksinya di Grup C, kala itu skor 4-1. Tim asuhan Luis Aragones memeragakan permainan apik dengan teknik tinggi dan cerdas serta enak disaksikan.

Apiknya permainan Spanyol tidak terlepas dari kinerja lini tengah. Kreatifitas kuartet Xavi Hernandez, Marcos Senna, David Silva dan Andres Iniesta patut diacungi jempol. Belum lagi begitu masuknya Cesc Fabregas. Khusus dinihari tadi gelar man of the match diserahkan pada Iniesta. Tidak salah karena perannya begitu dominan dalam mendikte permainan. Umpan-umpan gelandang Barcelona itu mampu merobohkan tembok pertahanan Rusia.

Liat gol pertama yang memecah kebuntuan dari kaki Xavi. Peran Iniesta begitu sentral meski tidak turut mencetak gol. Umpannya terukur sehingga Xavi tidak kesulitan meneruskannya ke gawang. Visinya tajam dalam membaca arah gerak Xavi. Kreasinya kembali berujung pada gol ketiga. Umpan terobosan berpresisi membuat Fabregas leluasa di sisi kana pertahanan Rusia menyodorkan umpan pada Silva yang menutup kemenangan La Furia Roja.

Gelar itu juga memperkuat alasan mengapa Aragones selalu menempatkan Iniesta ke dalam tim inti meski sedianya ia bukan gelandang kanan/kiri tulen. Aksi impresif pria 24 tahun itu kini dinantikan publik Spanyol dalam memberi gelar kedua Euro. Ketepatan umpan serta ketajaman visi Iniesta ditunggu dalam partai menghadapi Jerman di stadion yang sama pada Minggu, 29 Juni atau Senin dinihari (WIB) nanti.